Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2023

Pertemuan 11 (gugus aromatis dan kontriibusinya terhadap khasiat suatu obat )

  Gugus aromatis merupakan kelompok fungsional yang terdiri dari cincin aromatik, yang umumnya terdiri dari atom-atom karbon yang terikat secara alternatif dengan ikatan rangkap dua. Senyawa aromatik dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap khasiat suatu obat melalui beberapa mekanisme. Berikut adalah beberapa kontribusi gugus aromatis terhadap khasiat obat: 1. Interaksi dengan Reseptor Biologis: Gugus aromatis sering kali dapat berinteraksi dengan reseptor biologis di dalam tubuh. Struktur cincin aromatik dapat menjadi kunci untuk pengikatan obat pada target spesifik, seperti reseptor protein atau enzim. 2. Stabilitas Struktur Molekuler: Cincin aromatik memberikan stabilitas struktural terhadap molekul obat. Ikatan rangkap dua dalam cincin aromatik bersifat konjugasi elektronik, sehingga senyawa aromatik cenderung lebih stabil secara termodinamika. 3. Perubahan Sifat Fisik dan Kimia: Gugus aromatis dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia suatu obat, seperti kelarutan...

Pertemuan 10 (Struktur Kimia Obat bergugus fungsi alkena dan alkuna)

    Struktur Kimia Obat bergugus fungsi alkena dan alkuna Struktur kimia obat dengan gugus fungsi alkena dan alkuna dapat mencakup senyawa-senyawa yang memiliki ikatan rangkap dua (alkena) atau ikatan rangkap tiga (alkuna) dalam kerangka molekulnya. Kedua jenis ikatan rangkap ini dapat memberikan sifat-sifat reaktif khusus dan memainkan peran penting dalam aktivitas biologis senyawa tersebut. Berikut adalah contoh-contoh struktur obat dengan gugus alkena dan alkuna: Contoh Struktur Kimia Obat dengan Gugus Alkena: Ibuprofen: Gugus alkena terdapat pada cincin aromatiknya. Contoh Struktur Kimia Obat dengan Gugus Alkuna: Pentetrazol: Gugus alkuna terdapat pada cincin heterosikliknya. Struktur kimia obat sangat bervariasi, dan adanya gugus alkena atau alkuna bisa mempengaruhi sifat fisik dan aktivitas biologisnya. Interaksi ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme, termasuk pengikatan pada target spesifik di dalam tubuh atau melalui interaksi kimia dengan lingkungan biolog...

Pertemuan 9 (Teori Asam Basa)

  Teori Asam Basa Teori asam basa adalah konsep dasar dalam kimia yang digunakan untuk menjelaskan sifat-sifat asam dan basa. Ada beberapa teori yang berbeda untuk menjelaskan asam dan basa, dan beberapa di antaranya adalah: 1.        Teori Arrhenius: Dikemukakan oleh Svante Arrhenius pada tahun 1887.Menurut teori ini, asam adalah zat yang menghasilkan ion hidrogen ( +H+) dalam larutan air, sedangkan basa menghasilkan ion hidroksida ( −OH−). 2.        Teori Brønsted-Lowry: Dikembangkan oleh Johannes Nicolaus Brønsted dan Thomas Martin Lowry pada tahun 1923.Menurut teori ini, asam adalah zat yang dapat menyumbangkan proton ( H), sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton. 3.        Teori Lewis: Dikemukakan oleh Gilbert Lewis pada tahun 1923.Menurut teori ini, asam adalah zat yang dapat menerima sepasang elektron, sedangkan basa adalah zat yang dapat menyumbangkan sepasang elektron.